Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur
Berangkat Mencari Dongeng, Pulang Membawa Pertanyaan Ada masa ketika saya percaya bahwa dongeng adalah sesuatu yang sederhana. Sangat sederhana! Perempuan yang baik akan mendapat akhir baik. Perempuan yang melawan akan mendapat hukuman. Yang jahat akan kalah. Yang baik akan menang. Begitu polanya. Mungkin karena dulu saya mendengarkan dongeng sambil berbaring di sebelah enek. Usia saya […]
Sinopsis & Detail
Berangkat Mencari Dongeng, Pulang Membawa Pertanyaan
Ada masa ketika saya percaya bahwa dongeng adalah sesuatu yang sederhana.
Sangat sederhana!
Perempuan yang baik akan mendapat akhir baik. Perempuan yang melawan akan mendapat hukuman. Yang jahat akan kalah. Yang baik akan menang.
Begitu polanya.
Mungkin karena dulu saya mendengarkan dongeng sambil berbaring di sebelah enek. Usia saya masih terlalu kecil untuk bertanya mengapa seorang perempuan harus mati hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Saya hanya tahu: Sri Tanjung adalah perempuan baik.
Lalu, puluhan tahun kemudian, saya naik kereta Sri Tanjung menuju Banyuwangi.
Meski awalnya seperti bernostalgia, namun, sebenarnya saya sedang mencari tahu. Saya ingin melihat tempat yang selama ini hanya hidup di kepala saya.
Saya ingin bertemu orang-orang yang masih menyimpan cerita itu. Saya ingin tahu mengapa Sri Tanjung harus mati. Dan, kalau boleh jujur, saya juga ingin tahu mengapa ia begitu bodoh sampai mau menikah lagi dengan laki-laki yang pernah membunuhnya.
Ya, saya benar-benar berpikir begitu.
Sampai akhirnya saya bertemu seseorang di Banyuwangi yang mengatakan kepada saya:
“Sri Tanjung hidup kembali.”
Saya terdiam.
Ternyata cerita yang saya dengar ketika kecil belum selesai. Dan mungkin, memang di situlah masalah saya selama ini.
Saya terlalu cepat mengira sebuah cerita telah selesai hanya karena seseorang berhenti menceritakannya.
————————————————————————————————————————
Perjalanan ke Banyuwangi kemudian membawa saya pada banyak hal yang tidak pernah ada dalam dongeng nenek sebelum tidur: naskah lama, sejarah, ingatan masyarakat, perang, kekuasaan, dan perempuan-perempuan yang ternyata jauh lebih rumit daripada tokoh yang saya kenal ketika kecil.
Saya mulai bertanya-tanya:
Jangan-jangan selama ini kita tidak hanya mewariskan cerita.
Jangan-jangan kita juga mewariskan cara memandang perempuan.
Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya berjalan dari Banyuwangi, Malang, Kediri, Klaten, hingga Bantul.
Dan membawa saya menulis sebuah buku.
Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur bukan buku yang ingin membuktikan bahwa dongeng-dongeng lama itu salah. Saya justru ingin mengajak diri saya sendiri–dan siapa pun yang membacanya–untuk melihat kembali cerita-cerita itu dengan sedikit lebih lama.
Dengan rasa ingin tahu.
Dengan jarak.
Dan mungkin dengan pertanyaan yang berbeda.
Karena barangkali, sebuah cerita tidak pernah benar-benar selesai meski kita sudah sampai di halaman terakhir.
Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur adalah catatan perjalanan jurnalistik mencari suara perempuan di balik dongeng-dongeng lama. Buku ini membawa saya menelusuri lima kota dan enam tokoh perempuan yang sejak kecil saya kenal melalui cerita yang sangat berbeda dengan apa yang kemudian saya temukan.
Kalau kamu penasaran dengan perjalanan lengkapnya, bukunya bisa dibaca di sini.
→ Baca e-book Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur
- · Jangan-jangan selama ini kita tidak hanya mewariskan cerita.
- · Jangan-jangan kita juga mewariskan cara memandang perempuan.
- · Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya berjalan dari Banyuwangi, Malang, Kediri, Klaten, hingga Bantul.
- · Dan membawa saya menulis sebuah buku.
Rating & Ulasan
Mau Pesan Buku Ini?
Klik tombol order, isi data singkat, lalu selesaikan pembayaran lewat WhatsApp. Pengiriman seluruh Indonesia dengan bubble wrap aman.
Order Buku IniTanya ke Ayu
Konsultasikan kebutuhan bukumu — balas dalam 1×24 jam via WhatsApp.
Chat WhatsAppSulit Menulis? Ikuti Kelasnya
Belajar menulis bersama mentor berpengalaman, dari dasar sampai karyamu siap dibagikan.
Tulis Ulasan